Koordinator Komunitas Orang-orang Perduli Parlemen Indonesia (Formappi) Sebastian Salang menilainya beberapa elite partai politik berlaku seakan yang memiliki perusahaan yang dapat seenaknya memastikan kebijakan partai. Walau sebenarnya semestinya elite politik memperhatikan nada dari anggota partai politik. " Disini partai-partai tak menghormati anggotanya. Mereka sangat tergantung pada elite politik yang berlaku seperti entrepreneur. Hingga tak heran banyak orang-orang yang malas berhimpun dalam partai politik, " papar Sebastian waktu didapati di kantor Formappi, Jl Matraman Raya, Jakarta Timur, Kamis (7/4).
Menurutnya, ketergantungan partai politik pada beberapa golongan elite jadi satu diantara argumen orang-orang malas berhimpun dalam partai politik. Elite politik senantiasa memegang kendali pada maju-tidaknya partai politik hingga meremehkan anggota partai yg tidak mempunyai banyak modal. Sebastian menilainya hal semacam ini jadi permasalahan serius pada saat sudah merubah kebijakan satu partai. Ini tak berlangsung pada PPP saja, kata dia, nyaris semuanya partai di Indonesia juga alami hal yang sama. " Partai-partai di Indonesia belum mempunyai konsolidasi yang solid dalam merampungkan perseteruannya. Hingga partai politik begitu ketergantungan pada elit politik, " lebih dia. Konsolidasi internal yang baik bila mereka menyatu bukanlah waktu tercerai-berai. Sudah pasti hal semacam ini bakal menyebabkan beberapa efek untuk partai. Umpamanya kurun waktu dekat, mendekati Pilgub yang akan datang, elektabilitas mereka bakal makin alami penurunan. Hingga bila tak selekasnya dibenahi, pada Pilpres 2019, mungkin kursi di DPR akan tidak memenuhi untuk mengusung calon presiden. Begitu juga dengan Pilgub yang di depan mata. " Ancamannya mereka tak lolos dalam pemilu mungkin berlangsung. Oleh karena itu beberapa elit partai mesti meninggalkan egonya. Parpol itu punya anggota bukanlah elit politik, " tutup dia.
Menurutnya, ketergantungan partai politik pada beberapa golongan elite jadi satu diantara argumen orang-orang malas berhimpun dalam partai politik. Elite politik senantiasa memegang kendali pada maju-tidaknya partai politik hingga meremehkan anggota partai yg tidak mempunyai banyak modal. Sebastian menilainya hal semacam ini jadi permasalahan serius pada saat sudah merubah kebijakan satu partai. Ini tak berlangsung pada PPP saja, kata dia, nyaris semuanya partai di Indonesia juga alami hal yang sama. " Partai-partai di Indonesia belum mempunyai konsolidasi yang solid dalam merampungkan perseteruannya. Hingga partai politik begitu ketergantungan pada elit politik, " lebih dia. Konsolidasi internal yang baik bila mereka menyatu bukanlah waktu tercerai-berai. Sudah pasti hal semacam ini bakal menyebabkan beberapa efek untuk partai. Umpamanya kurun waktu dekat, mendekati Pilgub yang akan datang, elektabilitas mereka bakal makin alami penurunan. Hingga bila tak selekasnya dibenahi, pada Pilpres 2019, mungkin kursi di DPR akan tidak memenuhi untuk mengusung calon presiden. Begitu juga dengan Pilgub yang di depan mata. " Ancamannya mereka tak lolos dalam pemilu mungkin berlangsung. Oleh karena itu beberapa elit partai mesti meninggalkan egonya. Parpol itu punya anggota bukanlah elit politik, " tutup dia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar